Sastra, Perempuan, Seks PDF/EPUB Þ Sastra, Perempuan,


10 thoughts on “Sastra, Perempuan, Seks

  1. Oktaria Asmarani Oktaria Asmarani says:

    Katrin sangat kritis dalam menanggapi berbagai karya sastra Indonesia Ya, walaupun nggak semua esai dalam buku ini sama menariknya di mataku Aku paling suka bagaimana Katrin jeli melihat representasi dukun dan dokter dalam karya karya sastra Indonesia Dari sini terlihat bahwa pandangan kita dan juga sastrawan terhadap beragam metode pengobatan di negeri ini terbentuk secara kuat oleh kolonialisme biomedika adalah superior daripada pengobatan tradisional Apapun yang dari barat sudah pasti Katrin sangat kritis dalam menanggapi berbagai karya sastra Indonesia Ya, walaupun nggak semua esai dalam buku ini sama menariknya di mataku Aku paling suka bagaimana Katrin jeli melihat representasi dukun dan dokter dalam karya karya sastra Indonesia Dari sini terlihat bahwa pandangan kita dan juga sastrawan terhadap beragam metode pengobatan di negeri ini terbentuk secara kuat oleh kolonialisme biomedika adalah superior daripada pengobatan tradisional Apapun yang dari barat sudah pasti jelas tentu lebih oke daripada yang pakai mantra dan bunga bunga Ah, jadi ingat bagaimana beberapa waktu lalu masyarakat Bali gempar dengan peraturan pak gubernur tentang balian yang disediakan loket khusus untuk praktik di rumah sakit


  2. Mikael Mikael says:

    along with saut situmorangs later politik sastra this is the best collection of essays on indonesian literature for two reasons katrin writes about themes issues that other indonesian essayists wouldnt touch with a barge pole dont know anything about eg internet mailing list, is ayu utami really a great feminist, is djenar maesa ayu really a good writer, and because she writes with academic tightness unparalled recently in indonesia but, unlike eg melani budianta great academic writer in all o along with saut situmorangs later politik sastra this is the best collection of essays on indonesian literature for two reasons katrin writes about themes issues that other indonesian essayists wouldnt touch with a barge pole dont know anything about eg internet mailing list, is ayu utami really a great feminist, is djenar maesa ayu really a good writer, and because she writes with academic tightness unparalled recently in indonesia but, unlike eg melani budianta great academic writer in all other respects , doesnt shy away from the politics of the indo lit scene she doesnt just discuss the politics but states clearly which side shes on against tuk and its sycophants an admirable and rare openness in the pussilanimous world of indo lit


  3. ana ana says:

    keren banget saya masih harus banyak belajar huhu nangis


  4. htanzil htanzil says:

    Sebetulnya bisa dikatakan buku ini merupakan kumpulan resensi buku2 ttg sastra, perempuan, dan seks Kupasan Katrin Bandel dalam terhadap buku2 tsb dalem banget


  5. Arif Setiawan Arif Setiawan says:

    Penasran aku kang..hhe


  6. Biondy Biondy says:

    Buku ini adalah kumpulan esai tentang sastra yang ditulis oleh Katrin Bandel, seorang pemerhati sastra Indonesia yang berasal dari Jerman Katrin Bandel menyelesaikan doktor dalam sastra Indonesia di Universitas Hamburg, Jerman, dengan topik Pengobatan dan Ilmu Gaib dalam Prosa Modern Indonesia.Walau judul buku ini Sastra, Perempuan, Seks , tapi buku ini tidak melulu membahas tentang hubungan ketiganya Di dalam kumpulan esai ini, terdapat beberapa pembahasan lain, seperti Dukun dan Dokter d Buku ini adalah kumpulan esai tentang sastra yang ditulis oleh Katrin Bandel, seorang pemerhati sastra Indonesia yang berasal dari Jerman Katrin Bandel menyelesaikan doktor dalam sastra Indonesia di Universitas Hamburg, Jerman, dengan topik Pengobatan dan Ilmu Gaib dalam Prosa Modern Indonesia.Walau judul buku ini Sastra, Perempuan, Seks , tapi buku ini tidak melulu membahas tentang hubungan ketiganya Di dalam kumpulan esai ini, terdapat beberapa pembahasan lain, seperti Dukun dan Dokter dalam Sastra Indonesia , pembahasan tentang sastra pascakolonial, hingga Religiusitas dalam Novel Tiga Pengarang Perempuan Indonesia Hal ini sendiri diakui oleh penulis Menurutnya, pemilihan judul buku ini bukanlah rangkuman isi buku, tapi dia merasa Sastra, Perempuan, Seks cukup mewakili apa yang ingin dia bahas, yaitu politik sastra Indonesia yang penuh sensasi dan ketidakadilan hal xx.Ada tiga nama penulis yang sangat menonjol pembahasannya di buku ini Ayu Utami, Eka Kurniawan, dan Djenar Maesa Ayu Ketiganya menonjol dalam hal pembelaan kritik atas karya sang penulis oleh Katrin Bandel Dalam buku ini, Katrin Bandel mempertahankan karya Eka Kurniawan, Cantik Itu Luka , yang menurutnya telah diperlakukan secara tidak adil oleh Maman S Mahayana dalam esai Maman di Media Indonesia Dalam esainya, selain memberikan pemikirannya akan novel Cantik Itu Luka, Katrin juga mempertanyakan tentang apa itu fakta historis , serta apakah seharusnya sejarah itu hanya versi resminya saja yang boleh diikuti, bahkan dalam karya fiksi sekalipun Btw, saya kena spoiler novelnya Padahal belum baca Cantik Itu Luka v.Dalam pandangannya akan novel Saman dan Larung karya Ayu Utami, serta Nayla dari Djenar Maesa Ayu, Katrin justru mempertanyakan pujian pujian yang diberikan kepada novel novel itu dan kedua penulisnya Katrin mempertanyakan status buku buku itu sebagai karya feminis, serta beberapa logika cerita yang ada di dalamnya Pembahasannya cukup menarik dan disertai dengan argumen argumen yang juga menarik Menurutnya, kritik terhadap falosentrisme pemikiran bahwa maskulinitas adalah sumber kekuatan dan otoritas yang dihadirkan Ayu Utami hanya terjadi di permukaan Di level yang lain, novel Ayu justru sangat falosentris hal 117.Pada novel Nayla , Katrin mengkritik beberapa logika serta absennya kedalaman emosi dalam cerita Djenar Maesa Ayu Katrin merasa bahwa kekurangan dalam Nayla disebabkan oleh dua hal Pertama, kecenderungan untuk merayakan sukses nya sendiri sebagai pengarang Kedua, kecenderungan untuk menulis dengan gaya yang potensial dinilai baru , canggih , dan inovatif oleh pengamat hal 163 Katrin merasa bahwa pujian yang berlebihan justru akan menghancurkan sebuah potensi yang menjanjikan.Sayangnya, dengan semua kritik akan karya penulis perempuan yang diajukan, Katrin justru tidak memberikan beberapa buku karya penulis perempuan, baik dari Indonesia maupun dari luar, yang dirasa bisa mewakili perempuan menulis tentang perempuan Ada beberapa buku yang memang dituliskan secara positif, seperti Tujuh Musim Setahun nya Clara Ng, atau bahkan novel teenlit Nothing But Love karya Laire Siwi Mentari, tapi pembahasannya tidak begitu mendalam dan tidak mendapat ruang sebesar novel novel Eka, Ayu, dan Djenar Hal ini membuat saya bertanya tanya, apakah memang belum ada penulis wanita Indonesia yang mampu menulis tema menulis tentang perempuan dengan baik Saya rasa pasti ada.Tapi, walau memperoleh kritik berat dari Katrin, mungkin ada benarnya apa yang ditulis oleh St Sunardi, Ketua Program Pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dalam prakata Ketika penulis mengkritik suatu karya dengan sangat kreatif dan kadang berapi api, menurut hemat saya, hal itu justru menunjukkan keberhasilan apa yang dikritik Apa yang dikritik benar benar writerly, mendorong penulis untuk menulis hal xiii Well, mengingat esai esai di buku ini ditulis pada tahun 2001 2005, saya jadi penasaran bagaimana Katrin Bandel melihat politik sastra Indonesia saat ini Lalu bagaimana pula tanggapannya akan karya karya baru dari Ayu Utami, Djenar, Eka Kurniawan, hingga nama nama lain yang disebutkan di buku ini Buku ini untuk tantangan baca 2015 New Authors Reading Challenge


  7. Farrahnanda Farrahnanda says:

    Buku ini saya baca lebih sebagai sebuah pembelajaran, sih Karena beberapa tulisan dikupas tajam sama Tante Bandel euh kok berasa salah yah Tante Katrin aja deh saya panggilnya Ada beberapa hal yang bikin saya mikir mkikir lagi, terutama ketika Tante Katrin mengupas tulisan tulisan perempuan yang katanya mendobrak dan memberi suatu kebaruan Sebagian besar poin poin janggal yang dibeberkan blio saya setuju, sih Semoga proyek anu saya nantinya nggak cuma tulisan soal perempuan yang ngamban Buku ini saya baca lebih sebagai sebuah pembelajaran, sih Karena beberapa tulisan dikupas tajam sama Tante Bandel euh kok berasa salah yah Tante Katrin aja deh saya panggilnya Ada beberapa hal yang bikin saya mikir mkikir lagi, terutama ketika Tante Katrin mengupas tulisan tulisan perempuan yang katanya mendobrak dan memberi suatu kebaruan Sebagian besar poin poin janggal yang dibeberkan blio saya setuju, sih Semoga proyek anu saya nantinya nggak cuma tulisan soal perempuan yang ngambang di permukaan kayak tulisan tulisan yang dibahas Tante Katrin Nggak di situ aja, bahasan soal sastra dan medis pun menggelitik Juga ketika blio bahas soal tulisan yang di dalamnya unsur modern Barat bergesekan dengan unsur unsur tradisional lokal.Intinya saya senang sama buku ini karena bisa buat belajar


  8. Feti Habsari Feti Habsari says:

    sepertinya buku ini tidak cukup ringan untuk saya, butuh waktu lama untuk menyelesaikan membaca dan memahami isi buku yang tidak lebih dari dua ratus halaman ini.saya akui, apa yang disampaikan Katrin Bandel dalam buku ini sungguh menarik untuk dibaca dan dikulik hanya saja, untuk saya yang belum terbiasa membaca esai esai dalam sebuah buku, terkadang bosan dan harus diletakkan dulu berganti dengan buku lain.


  9. Tenni Purwanti Tenni Purwanti says:

    Sungguh, Indonesia butuh lebih banyak kritikus sastra seperti Katrin Bandel Saya dapat melihat karya penulis penulis idola saya dengan lebih obyektif setelah membaca buku ini Juga ada beberapa buku penting lainnya yang selama ini tidak saya kenal dan akhirnya ingin saya baca karena buku ini.


  10. Arif Abdurahman Arif Abdurahman says:

    Esai esai asyik yg mengkritisi sastra Indonesia, utamanya bagian Sastra Koran dan Sastrawangi Yg paling saya suka tentu saja resensi Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau nya Eka Kurniawan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sastra, Perempuan, Seks [Reading] ➶ Sastra, Perempuan, Seks By Katrin Bandel – Buyprobolan50.co.uk Dalam dunia sastra Indonesia saat ini perempuan dan seks merupakan dua isu yang sangat penting perempuan terutama dalam arti pengarang perempuan dan seks sebagai tema karya sastra yang sedang ngetren Dalam dunia sastra Indonesia saat ini perempuan dan seks merupakan dua isu yang sangat penting perempuan terutama dalam arti pengarang perempuan dan seks sebagai tema karya sastra yang sedang ngetren Begitu banyak pengarang perempuan baru bermunculan dalam beberapa tahun terakhir ini dan tidak sedikit dari mereka mendapat sambutan yang luar biasa, baik dari segi respons media, penghargaan sastra, maupun jumlah buku yang terjual Benarkah karya mereka demikian hebat sehingga pantas dihebohkan serupa itu Sastra, Perempuan, Epub / Berbagai klaim muncul seputar para pengarang perempuan baru itu tulisan mereka hebat, menciptakan gaya penulisan baru, mereka mendobrak tabu, terutama seputar seks dan hal itu sering dipahami sebagai semacam pembebasan perempuan bahkan sebagai feminismeKatrin Bandel dalam buku ini berusaha mempertanyakan klaim klaim tersebut Menurutnya kehebohan seputar beberapa penulis perempuan bukan perempuan penulis , yang secara popular disebut sebagai sastrawangi itu, sangat berlebihan.

  • Paperback
  • 166 pages
  • Sastra, Perempuan, Seks
  • Katrin Bandel
  • Indonesian
  • 15 February 2019
  • 9793684534 Edition Language Indonesian URL

About the Author: Katrin Bandel

Katrin Bandel lahir Desember di Wuppertal, Jerman Menyelesaikan doktor dalam sastra Indonesia pada tahun di Universitas Hamburg, Jerman, dengan topik Pengobatan dan Ilmu Gaib dalam Prosa Modern Indonesia Puisi, cerpen, dan eseinya dimuat di Cyber Graffiti, IniSirkus Senyum, Graffiti Imaji, Dian Sastro For President , Batu Merayu Rembulan, Esei esei Bentara , Sastra Pembebasan, Les Cyberlettres, On Off, mejabudaya, Jurnal Cerpen Indonesia, Bentara, Horison, Basis, Kompas, Bernas, Minggu Pagi, Suara Sastra, Perempuan, Epub / Merdeka, dan di situs sastra cyberpunk Indonesia cybersastra Katrin juga seorang pelukis dan pernah berpameran tunggal di ViaVia Caf Yogyakarta Saat ini menetap di Yogyakarta dan menjadi dosen tamu mata kuliah Teori teori Budaya dan Gender Studies di program Magister Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.