Learning to Love eBook × Learning to Kindle -


Learning to Love ➷ [Reading] ➹ Learning to Love By Eni Martini ➬ – Buyprobolan50.co.uk DijodohkanKalau pria itu tampan berpendidikan karier mapan dan berasal dari keluarga baik baik kenapa tidakSaat jam biologis terus berdetak dan ia tak kunjung memiliki hubungan yang langgeng dengan la DijodohkanKalau pria itu tampan berpendidikan karier mapan dan berasal dari keluarga baik baik kenapa tidakSaat jam biologis terus berdetak dan ia tak kunjung memiliki hubungan yang langgeng dengan laki laki Eliz memutuskan menerima rencana mamanya untuk dikenalkan dengan Ken Eliz nyaris tidak percaya saat proses perjodohan tersebut begitu lancar Tak banyak basabasi Tak ada Learning to Kindle - pertentangan Dalam waktu singkat mereka sudah sah menjadi suami istri dan saling beradaptasiNamun diam diam Eliz bertanya tanya dalam hati mengapa pria yang nyaris sempurna seperti Ken bersedia menikahinya Sikap Ken yang cuek dan dingin pun membuat Eliz curiga jangan jangan Ken tidak tertarik pada wanitaKetika satu demi satu konflik menghantam rumah tangga mereka akankah Eliz mundur dan menyudahi semua atau membuka hati dan belajar mencintai suaminya.

  • Mass Market Paperback
  • 184 pages
  • Learning to Love
  • Eni Martini
  • Indonesian
  • 10 May 2016

About the Author: Eni Martini

Terlahir di kota Jakarta Menulis sebagian hidup menulis jejak di belakang atau sesuatu di depanMelepas masa lajang Februari setelah bertemu dan jatuh cinta dengan seorang lelaki bernama Budi Suharjiyanto Pertemuan akhir April di Bengkel Theater RendraPenyuka alam perjalanan teh manis hangattheater dan menulisMelahirkan putri pertamanya Lintang putra keduanya Pijar m.



10 thoughts on “Learning to Love

  1. Aya Murning Aya Murning says:

    Judul Learning to LovePenulis Eni MartiniPenerbit Gramedia Pustaka UtamaPenyunting Ruth Priscilia AngelinaJumlah Halaman 184 HalamanTerbitan Jakarta 2014Cetakan Pertama Oktober 2014ISBN 978 602 03 0988 0Genre Chiclit Roman DewasaPernah terbayang tidak dihidupmu bahwa kau akan mendapatkan suami dari proses perjodohan? Atau bahkan pernah tidak terlintas di benakmu kau akan melewati proses perkenalan yang begitu singkat hingga akhirnya setuju memutuskan untuk segera ke pelaminan? Mungkin bagi kalian itu sungguh tabu untuk di jaman sekarang bak Siti Nurbaya yang dijajalkan pada Datuh MaringgihItulah yang dialami Eliz seorang perempuan berusia 33 tahun—yang bisa dibilang sudah melewati golden age untuk merasakan jadi pengantin baru—dengan pekerjaan yang cukup mapan pecinta latte wajah yang cukup rupawan namun tidak pernah langgeng jika sedang in relationship dengan pria “Setiap orang memiliki masa itu Liz Masa datangnya jodoh bagi si single Masa yang sesungguhnya sulit untuk terulang lagi kecuali keajaiban dari Tuhan” halaman 11 “Seorang gadis akan memiliki masa masa ranum masa masa kumbang akan datang dengan bau madunya itu mungkin sekitar usia 25 sampai 30 tahun Rentang waktu yang dapat dikatakan tidak lama Tapi syukur syukur akan sampai usia 33 tahun Nah jika masa masa ranum itu kamu biarkan berlalu tanpa memilih satu pun pilihan untuk mendampingihidupmu maka kamu akan kesulitan mendapatkan jodoh Bahkan akan terlena di usiamu selanjutnya Terlena dalam penantian yang tidak pasti Lalu tahu tahu kamu akan keriput tanpa pernah merasakan jadi seorang pengantin” halaman 11 12Hal ini membuat ibu Eliz jadi gemas sehingga berniat mengenalkan dan menjodohkan Eliz dengan anak sahabatnya agar bisa cepat menikah dan memberinya cucu Tersebutlah seorang lelaki bernama Ken lajang berusia 34 tahun karir yang tidak kalah maju sedang menyelesaikan S 2 serta tampang yang lumayan bikin meleleh Awalnya Eliz meragukan rencana ibunya ini namun mbaknya sendiri pun mendukung supaya Eliz mau dijodohkan apalagi sosok si Ken itu tidak perlu diragukan lagi latar belakangnya dan seorang Eliz pun sudah sangat pantas untuk menikah dengan Ken “Kalau secara matematika karier bagus ditambah rupa bagus hasilnya sempurna Tapi dalam kehidupan hasilnya bisa lebih besar lebih kecil atau bahkan sama dengan Ajaibnya lagi mudah dicintai gonta ganti pacar semudah menghitung jari bisa menghasilkan kemungkinan sulit mendapatkan jodoh Rumus kehidupan bisa membolak balikan hasil pasti dari ilmu matematika” halaman 17 “Aku sadar perempuan memiliki masa expired di rahimnya Siapa sih yang nggak mau mendapatkan jodoh di usianya yang sudah lebih dari cukup?” halaman 43Di sisi lain sikap Ken dalam menanggapi pertemuan perjodohan itu malah santai santai saja Dia setuju setuju saja dengan rencana ibunya Tidak mau ambil pusing lagi dan mungkin inilah jalan terbaik baginya untuk mendapatkan jodoh “Tapi pekerjaanku saja sudah menguras energi mana sempat lagi naksir naksir cewek Capek juga gonta ganti pacar terus Aku mau cari yang serius serius saja” halaman 25Di buku ini hanya dijelaskan ada 2 pertemuan saja yang dilakoni Ken dan Eliz Kemudian di BAB 8 ternyata langsung memasuki fase di mana mereka telah melewati proses pernikahan Awalnya agak kaget karena terasa cepat sekali tahu tahu sudah menikah tapi kupikir ya tidak apa apalah karena saya sudah terlanjur penasaran dengan kehidupan perjalanan rumah tangga mereka selanjutnya seperti apa Di sinopsis kan sudah disebutkan “ketika satu demi satu konflik menghantam” wow ekspektasiku bakal banyak nih konfliknya “Ya aku tinggal di rumah kos tapi sangat kecil untuk kita tempati berdua Tempat kosku lumayan besar Sementara bisa buat kita berdua sambil mencari rumah yang cocok” halaman 71By the way soal Ken yang selama ini tinggal di kos dan akan memboyong Eliz ke tempat kosnya yang katanya lumayan besar itu out of the box bener deh menurutku Unik aja kalo pengantin baru stay nya di kos Bener bener nggak terpikir kalo seorang lelaki mapan seperti Ken itu ternyata tinggal di sebuah kos Kirain di apartment atau sudah punya rumah sendiri Tapi tetep terasa agak janggal gitu kalo pengantin baru tinggal di kos Mau sebesar apapun kos itu yang namanya kos ya tetep kos kurang terasa privasinya Tidak pula dijelaskan apa alasan Ken tinggal di kos ketimbang memilih rumah atau apartemen Jika menurut nalarku lelaki seperti Ken harusnya mampu membeli rumah atau apartmentSelama saya membaca buku ini terasa sekali suasana kekeluargaannya di mana orangtua Ken dan Eliz serta mbaknya Eliz dan adiknya Ken pada merestui pernikahan Ken dan Eliz Mereka juga sangat peduli terhadap menantu dan ipar masing masing terutama kepada Eliz Seperti di halaman 118 123 ibu Ken menghabiskan waktu bersama Eliz untuk berbelanja dan masak masak Bagi pembaca sekalian yang notabenenya wanita belum menikah bisa juga nih memetik beberapa petuah dari buku ini tentang menjadi istri yang baik dan tips memasak yang benar “Kita sebagai istri dan ibu bertanggung jawab terhadap kesehatan suami dan anak anak kita Dan kesehatan itu berawal dari apa yang kita makan Kalau kamu nggak merasa memiliki kewajiban untuk masak kasihan suami dan anak anakmu kelak” halaman 119Saya pun berhasil menemukan satu tips menarik—entah ini memang saya yang belum tahu karena kuper atau mungkin kalian juga pada belum tahu—tentang menghangatkan makanan yang bersantan “Kalau harus dihangatkan begitu sayur santan kan juga berbahaya Ma Sebab santan akan mengandung aseton atau radikal bebas kalau dipanaskan berulang ulang” halaman 119Hmm to be honest saya baru nemuin konflik yang nendangnya itu waktu sudah mau mencapai halaman halaman akhir itupun nggak terlalu nendang sih sebenarnya hehehe Dari awal tengah hingga ke akhir saya terus menunggu apa saja konflik yang mendera Tadinya saya kira ada banyak tapi ternyata konflik utamanya hanya satu Hanya karena Eliz bertemu dengan masa lalunya Ken yaitu Kania lalu ia mendengar apa yang diucapkan Ken yang sesungguhnya bagiku itu bukanlah sesuatu yang offensive jika sendirinya dalam situasi menjalani sebuah pernikahan hasil perjodohan Masa iya sih cuma gara gara itu jadi langsung bikin keputusan mendadak? Tanpa kompromi pula Karena yang saya tahu kalo dalam pernikahan itu segala sesuatunya harus saling terbuka dan kompromi dulu ada konfirmasi dari kedua belah pihak Lagipula menurutku wajar wajar saja jika Ken memberi pernyataan seperti itu ketika ditanya oleh Kania atau mungkin Ken yang kelewat polos kali ya sampe hal begitu aja dia jawab dengan jujur Saya pernah baca sebuah tweet yang isinya “Cewek itu belum apa apa udah main perasaan ngarep kan jadinya? Sedangkan cowok itu lebih mengandalkan logika dan penuh pertimbangan makanya butuh waktu bagi cowok untuk menyukai seseorang” “Bukannya dalam berumah tangga itu seperti menanam bibit dari pohon yang kita cintai yang kita inginkan untuk tumbuh berbunga dan berbuah? Jadi kupikir menikah atau berumah tangga itu proses seumur hidup untuk terus mencintai” halaman 150Rada syebel kenapa si Kania mantan Ken nggak muncul dari sebelum sebelumnya aja Mbak? ” Kalau saja dengan alasan adanya Kania lalu Eliz cemburu kurasa itu akan jadi lebih menarik Sudah kebayang nih di kepala saya apa yang akan mencairkan kekakuan antara Ken dan Eliz Apalagi Ken dan Kania ini skinship nya minim sekali padahal kan suami istri Saya jadi gemeees bangeeet mengimajinasikannya hihi Misal dengan sikap cemburunya Eliz maka itu akan membuka mata Ken bahwa Eliz memang sudah jatuh cinta padanya kemudian dengan cara apalah Ken meredakan api cemburunya Eliz itu Kemudian disusul dengan kondisi kandungan Eliz itu bisa jadi konflik baru lagi misalnya karena Eliz tidak memberitahu kondisinya ke dia dan pihak keluarga sehingga Ken marah dan sebagainya “Sesuatu yang tidak cocok bukan dipaksakan untuk menjadi cocok tapi dipahami agar saling mengisi” halaman 13Anyway nggak bisa nyalahin juga sih dengan alasannya Eliz di konflik terakhir itu Sebagai sesama wanita saya masih bisa mengerti mengapa Eliz beralasan seperti itu “Tapi apa enaknya hidup bersama laki laki yang tidak mencintai kita? Yang mencintai karena terpaksa dan rasa tanggung jawab dibentuk karena faktor pernikahan karena faktor berbakti kepada orangtua” halaman 170Tapi pernyataan dari Kania juga nggak kalah namparnya nih ” “Cinta yang datang begitu saja yang terbentuk tanpa kesadaran akan mudah pergi juga tanpa kita sadari Akan mudah sirna bila tidak ada intensitas Sementara cinta yang dibentuk dengan kesadaran akan mudah kita pahami kita arahkan dan kita jaga” halaman 170Jadi kesimpulannya itu hmmm masih kurang ramai tapi pada titik tertentu bagian itu terasa pas dan benar sekali adanya Kalau saja konflik besarnya bisa ada di mana mana itu bisa jadi lebih nendang lagi But over all konsep ceritanya bagus kok Mbak Seolah menunjukkan kalau suatu perjodohan itu tidak selamanya buruk karena yang saya perhatikan belakangan ini orang orang kayak pada anti gitu kalau dijodohkan Ada hikmahnya juga baca novel ini misalnya menanam cinta setelah menikah itu bukanlah sesuatu yang tabu lagi di masa sekarang tanpa harus melewati masa pacaran pun bisa kok dapat jodoh dan bahagia di rumah tangganya atau dengan kata lain proses perjodohan Ken dan Eliz ini kamuflasenya dari ta’aruf Banyak yang bilang kalau belajar mencintai dan belajar lebih memahami pasangan setelah menikah itu malah lebih indah dan seru Pernyataan Kania di situ juga benar benar menginspirasi saya Buat yang masih single setelah membaca buku ini sekiranya sedikitbanyak bisa belajar menghadapi sebuah pernikahan dan rumah tangga nantinya atau siapa tahu ada yang dapet jodoh dari hasil perjodohan juga kan Saya beri 35 bintang untuk novel ini ”Masih ditemukan beberapa salah pengetikan“Mocassin” halaman 38Di buku tidak miring harusnya dimiringkan karena kata Mocassin yang lainnya miring“per temuan” halaman 42Ada tanda strip padahal kata tersebut tidak terpotong ke bawah“melun cur” halaman 44Ada tanda strip padahal kata tersebut tidak terpotong ke bawah“Mocassin nya” halaman 52Di buku tidak miring harusnya dimiringkan karena kata Mocassin yang lainnya miring“Say hi” halaman 63Di buku tidak miring harusnya ditulis miring karena merupakan bahasa asing“me narik” halaman 138Ada tanda strip padahal kata tersebut tidak terpotong ke bawah“me nyiapkan” halaman 150Ada tanda strip padahal kata tersebut tidak terpotong ke bawahNB Terima kasih untuk Mbak Eni selaku penulis dan Mbak Vera selaku editor karena sudah memilih saya menjadi pemenang di giveaway buku A GPU sehingga saya diberi kesempatan untuk meresensi buku ini Maaf beribu maaf ya buat Mbak Eni dan Mbak Vera kalau saya posting review nya udah kelamaan sejak sampainya novel ini di rumah Karena ada satu kendala dan lain hal nulisnya jadi tertunda padahal nyelesaiin baca novelnya sudah dari hari hari sebelumnya Sekali lagi maaf ya Mbak sekalian ” Alhamdulillah sekarang hutang saya sudah bisa terlunaskan dan mohon maaf juga kalau review saya masih kurang memuaskan ”

  2. Pauline Destinugrainy Pauline Destinugrainy says:

    Ken dan Eliz menikah karena dijodohkan Sebelum menikah mereka tidak punya banyak waktu untuk bertemu dan saling mengenal satu sama lain Akibatnya setelah menikah membangun komunikasi lebih sulit Seperti judulnya baik Ken dan Eliz belajar untuk saling mencintai ditengah kesibukan masing masing Sayangnya proses mereka belajar mencintai ini porsinya kuranv dieksplore Lebih banyak kegalauan dan curhat dengan teman masing masing

  3. Runadei Runadei says:

    Novel tema pernikahan yang datar Enggak bisa klepek klepek sama Ken Dia terlalu tak acuh nggak peka dan nggak bikin gremet gremet pokoknya Eliza nya juga nggak lovable Agak sebel dengan nama panggilannya; Eliz nanggung aja penyebutannya Cerita tentang kehidupan asmara Nina sahabatnya si Eliza di sini saya skip melulu Kemunculannya mungkin untuk menegaskan tema cerita yang Learning to Love again dalam kasusnya Nina tapi lebih baik difokuskan ke proses learning to love nya Eliza Ken sendiri aja deh Karena saya nggak melihat ada perjuangan dari keduanya untuk berusaha mencintai Yang ada mereka kayak pasrah aja gitu dengan perjodohannya Udah nikah ini mau gimana lagi? nggak ada chemistry nyaBuku ini sempat bikin saya takut nikah takut dijodohin takut punya mertua juga wkwkwkwk2 bintangs

  4. Seffi Soffi Seffi Soffi says:

    11100Tema perjodohan sekaligus pernikahan biasanya aku selalu suka tapi di sini kayaknya terlalu terburu buru Ya serba kilat banget Chemistrynya pun nggak ada feel sama sekali Apalagi tokoh lakinya yang sama sama cuek jadi kayak hampa aja gitu Ya kan biasanya laki nih yang suka gencar Tapi ini B aja gitu bikin emosi yang baca Overall ya cukup lumayan untuk dibaca sekali duduk Karena emang konfliknya nggak terlalu berat berat amat meskipun kalau digali lebih dalam pasti bagus

  5. Natha Natha says:

    Drama pake banget aOke mungkin aku belum merasakan sendiri bagaimana itu sebuah 'pernikahan' tetapi ini bukanlah buku pertama yang tokoh tokohnya 'menikah' di awal kisah dan pernikahan adalah sebuah awal dari konflik di dalam satu novel Pernikahan yang dimulai dengan kedua orang mempelai yang sudah berpacaran lama dan saling mengenal bertahun tahun saja bisa bertengkar dan bercerai pada akhirnya apalagi yang dijodohkan dan tidak saling mengenal sebelumnya?Tapi yang bikin aku kecewa konfliknya kurang dalam Emosinya tidak terasa Sampai sampai ketika aku membacanya aku hanya merasa 'oh come on kau terlalu lebay'Eksekusi endingnya terlalu terburu buru dan terkesan maksa seperti belum waktunya habis sudah dipaksa tamat Kenapa alih alih menamatkan tidak menggali tokoh tokohnya dan konfliknya? Buku buku lain yang berbasis dari pernikahan dijodohkan banyak kok yang bagus dan oke Kenapa tidak kan? Memang ide macam ini sudah banyak tetapi tetap saja balik ke cara penulisnya bagaimana penulis meramu ide yang sama dan menjadikannya berbeda Dan ini terasa kurang buatku

  6. Just_denok Just_denok says:

    Baca novel ini berasa seperti sedang diajak ngobrol sama Eliza Obrolan yang hangat di suatu sore yang tenang dengan Kopi sebagai temannya Membaca novel ini seakan kita sedang menikmati Eliza yang sedang bercerita Bagaimana ia memaknai cinta lalu kekhawatiran akan pasangan bagaimana saling mengerti bagaimana dia belajar menjadi seorang istri serta bagaimana ia memaknai pentingnya keterbukaan dengan suaminya Walaupun menggunakan POV 3 cerita d novel ini didominasi oleh bagian Eliza dan bagaimana serta mengapa ia mengambil sebuah keputusan Cara bercerita penulis pun tidak berkesan menggurui Jadi benar2 terasa seperti obrolan yang santai walaupun tidak membahas hal yang ringan It's all about a life Enak deh pas dibaca Walaupun jujur aku kadang kesal dengan sikap Eliza yang kesannya juga egois Tapi kurasa itu satu hal yang memang sengaja diciptakan oleh penulis supaya dapet konflik cerita Dan itu sukses bikin aku gemas juga Pengennya sih endingnya lebih panjang dan manis

  7. Rahmah Chemist Rahmah Chemist says:

    I’ll try harder Let me learn to love youHmmm lagi lagi cinta yang berhasil membawaku dalam review buku romance kali ini Bicara dan membahas cinta tidak akan pernah habis Terlalu banyak argumen dan penafsiran yang akan hadir jika setiap jiwa ditanya makna cinta Kata yang tak pernah dibenci meski bersamanya pasti ada saja luka Kata yang selalu jadi alasan agar keadaan menjadi lebih kondusifEni Martini membawa saya melanglang buana pada pemahaman cinta dalam konteks perjodohan dan rumah tangga yang dibangun atasnya Learning to Love adalah novel genre romance yang sudah berjejer rapi dalam tumpukan novel milik saya Dan membacanya benar benar tak perlu menunggu lebih dari 2 dua jam saya pun berhasil termenung kembaliSelanjutnya bisa baca di sini

  8. Agustine W. Agustine W. says:

    Saya gemes kenapa Ken dan Eliz nggak dikasih kesempatan beromantis ria? Kurang mengoyak emosi Padahal sudah kebayang perjodohan yang akan dibumbui konflik konflik cetar dan ah maaf saya kasih bintang 25 saja Kalau novel ini ditulis ulang dieksplorasi lagi konflik konfliknya yang bikin emosi jiwa saya akan menaikkan jumlah bintangnya sampai 5 Serius selengkapnya di

  9. Mellisa Assa Mellisa Assa says:

    Everyone wants to get married because of love Hal 170Tidak ada ego yang perlu dipertahankan dalam rumah tangga Hal 174Bukan hanya belajar mencintai tapi belajar menunjukkan perasaan juga supaya nggak ada ruang kosongReview lengkap di sini

  10. haerani haerani says:

    endingnya terlalu terburu buru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *